Pengumuman dari panitia UNS HEALHY ESSAY COMPETITION

dengan hormat,

kami dari panitia akan menjelaskan prosedur perlombaan yang telah kami lakukan.

Tahap persyaratan administrasi:

  1. Semua peserta adalah siswa/i dan mahasiswa
  2. Peserta adalah perorangan
  3. Setiap peserta diperkenankan mengirimkan lebih dari satu karya
  4. Peserta mendaftakan diri paling lambat tanggal 2 maret 2010

Setiap peserta yang mendaftarkan diri akan mendapat sertifikat. Apabila ada yang mendaftarkan diri tetapi formulir tidak sampai kepada panitia (baik penyerahan secara langsung atau e-mail) bukan menjadi tanggung jawab panitia dan tidak mendapat sertifikat.

  1. Biaya pendaftaran sebesar Rp 25.000,00 untuk setiap peserta disetorkanke rekening panitia.
  2. Pemenang akan akan diundang untuk megikuti seminar nasional “ optimalisasi desa siaga menuju Indonesia sehat”
  3. Esai adalah karya orisinil yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya di media mana pun, belum pernah diikutsertakan dalam perlombaan sejenis, dan/atau tidak pernah digunakan untuk media komunikasi apapun.

Tahap pengumpulan karya :

Semua karya yang masuk harus terdiri dari karya rangkap empat, curriculum vitae, lembar orisinalitas karya dan soft copy karya dan curriculum vitae dalam bentuk compact disk dengan format word. Semua karya diterima paling lambat tanggal 2 maret 2010, tetapi karena ada beberapa permintaan keterlambatan pengiriman  dari pihak panitia memberikan dispensasi sampai tanggal 6 maret 2010. Setelah karya dikirim, peserta dimohon untuk konfirmasi kepada panitia via sms atau telpon selambat-lambatnya 24 jam setelah pengiriman. Amplop yang dikirimkan dittutup rapat dan disudut kanan atas amplop dituliskan “ UNS HEALTHY ESSAY COMPETITION 2010 “. Apabila ada kejadian seperti tidak sampainya kiriman karya kepada panitia dan CD yang diberikan tidak terbaca, bukan menjadi tanggung jawab panitia.

Tahap penjurian :

Penjurian dimulai dari tanggal 8 maret 2010 sd  20 maret 2010. Penjurian dilakukan dengan double blind sistem. Identitas karya yang masuk ke dewan juri dihilangkan dan diganti dengan nomor peserta.

Juri yang ditunjuk adalah pakar di bidangnya:

No Nama Jabatan
1. dr. kusumadewi Dosen dan staff IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat ) FK UNS
2. dr. titik kadarsih Kepala bidang P2PL dinas kesehatan Surakarta
3. Setyo Dwi  H Anggota LSM Pattiro Surakarta

Kriteria penjurian :

KETENTUAN:

Skor 4  : Apabila memenuhi 75-100% kriteria aspek penilaian

Skor 3  : Apabila memenuhi 50% kriteria aspek penilaian

Skor 2  : Apabila memenuhi 25% kriteria aspek penilaian

Skor 1  : Apabila tidak memenuhi kriteria aspek penilaian

NO ASPEK PENILAIAN NILAI SKOR JUMLAH

(NILAI X SKOR)

1 2 3 4
1 Kualitas argument
a)      Topik dibahas mendalam 20
b)      Argumen menjawab pertanyaan 20
c)       Argumen yang digunakan logis 20
d)      Manfaat Penulisan 20
2 Kualitas bukti
a)      Argumen disertai bukti dan contoh 10
b)      Bukti- bukti akurat 10
c)       Contoh efektif sebagai faktor penjelas 20
3 Cara penulisan
a)      Tulisan ringkas, padat, dan jelas 10
b)      Struktur kalimat dan penulisan benar 10
c)       Bahasa Indonesia baku 10
d)      Tanda baca benar 5
e)      Ketelitian penulisan 5
4 Sumber
a)      Jumlah sumber minimal 10 10
b)      Sumber mutakhir (5 tahun terakhir) 5
c)       Benar dan konsisten dalam penulisan daftar pustaka 10
total

Keputusan dewan juri bersifat mutlak , megikat dan tidak bisa diganggu gugat. Panitia tidak memegang hak untuk ikut menilai dalam proses penjurian. Panitia hanya menyerahkan karya yang ada dan lembar penilaian. Naskah yang masuk menjadi hak panitia dan tidak dikembalikan. Panitia memiliki hak dan wewenang untuk mempublikasi naskah essai peserta dengan tetap mencantumkan nama penulisnya.

Tahap pengumuman:

Pengumuman dilakukan tanggal 22 maret 2010 melalui www.deplubersahabat.wordpress.com. Para juara akan dihubungi panitia untuk agenda selanjutnya.

SEMILOKA “OPTIMALISASI DESA SIAGA MENUJU INDONESIA SEHAT”

file-file di bawah sebagai gambaran untuk lokakarya yang akan diadakan tanggal 4 April, berisi tentang beberapa kajian tentang pelaksanaan desa/kelurahan siaga, masih banyak hal yang sekiranya dapat kita kaji dalam pelaksanaan program desa/kelurahan siaga ini…
apakah program ini strategis dan baik untuk mewujudkan Indonesia Sehat? Ataukah program ini hanya akan menjadi sejarah program seperti slogan “Indonesia Sehat 2010″ yang bahkan sampai tahun ini (tahun 2010) nampaknya tidak memberikan hasil yang nyata bagi perkembangan kesehatan Indonesia…
inilah saatnya bagi kita para mahasiswa untuk mencoba mengkritisi pelaksanaan program Desa Siaga ini, karena kitalah Agent of change, agent of development,

Silakan download

Pemudaku Mahasiswa Indonesia

-dewi-

Orang-orang tua berdasi dan bermobil mewah keluar masuk dari Gedung Pemerintahan yang setauku  usianya hampir sama dengan mereka. Akan tetapi, ada perbedaaan diantara keduanya. Gedung itu sudah usang, bau kayu lapuk, kalau kau menengok ke bagian langit-langitnya banyak sekali plafon yang habis dimakan hujan dan bahkan lebih cocok lagi kalau gedung itu disebut gedung hantu. Sementara mereka, wangi parfum mahal tercium dari radius beberapa meter. Sebenarnya aku bingung. Mobil-mobil mereka begitu berkilauan bila ditimpa cahaya matahari tapi kenapa mereka mau rapat di tempat yang sangat tidak sesuai dengan gaya hidup mereka. Kenapa mereka betah duduk seharian di dalam ruangan yang berpendingin alami. Aku teringat dengan berita akan dibangun gedung itu tapi sampai sekarang, tak ada satu  butir pasir pembaharuan pun yang menyentuh tempat itu. Miris aku dibuatnya.

Hanya muka-muka itu saja yang selalu terlihat. Hampir bosan aku melihatnya. Aku bertanya dalam jiwa ku sendiri “katanya pemuda adalah calon pemimpin bangsa, kenapa tak ada dari mereka yang muda, kemana pemuda-pemuda itu?” Atau karena harus rapat di tempat kumuh itu pemuda menjadi ciut nyalinya. Seharusnya tempat itu tidaklah kumuh lagi seperti yang kita bayangkan. Semestinya gedung hantu yang notabene adalah gedung suara rakyat sudah dibangun dengan megah dan layak pakai. Tempat yang pantas untuk menaruh suara hati nurani masyarakat yang haus akan perubahan menjadi lebih baik. Kemanakah gedung yang kita rindukan itu? Suara kami tak di dengar, gedung pun ikut jadi korban. Mungkin karena mereka terlalu lama duduk dalam pemerintahan akan mengalami titik jenuh. Yang mana di titik jenuh seseorang dapat melakukan penyimpangan. Belajar dari pengalaman orde baru. Indonesia yang dipimpin oleh presiden soeharto selama 32 tahun. Tentunya ini akan menimbulkan titik jenuh pada pemerintahan soeharto. Seseorang dapat tergiur untuk melakukan penyimpanagn. Lihatlah seberapa parah hutang kita akibat penyimpangan yang dilakukan para pejabat pemerintahan. Masyarakat pun merasa bosan karena tidak ada perubahan menuju penghidupan yang lebih layak yang terjadi. Pemerintah sibuk dengan urusannya sendiri dan masyarakat sibuk  mencari apa yang dapat mereka kerjakan. Mencari sesuap nasi ibarat mencari jarum di dalam jerami. Mengkritisi pemerintah sama saja dengan mati. Di titik seperti inilah masyarakat membutuhkan perubahan. Perubahan harus dari golongan baru golongan yang mau mencetuskan pemikiran-pemikiran baru. Pemikiran yang penuh dengan nasionalisme. Pemikiran yang mau membuat negerinya maju, tidak dalam posisi stagnan tanpa perubahan. Pemuda, merekalah jawabannya. Pemuda yang rela berkorban demi bangsa dan Negara. Pemuda yang haus akan perubahan.

Katanya demokrasi sudah melibatkan dari kalangan pemuda. Tetapi, sepertinya layak dipertanyakan ‘”di mana jiwa pemuda yang siap mengadakan perubahan selama ini kita tunggu-tunggu?” . memang sempat pemuda melakukan perubahan yang sangat besar pada pemerintahan. Transisi demokrasi menjadi salah satu perubahan yang penting untuk diingat. Negara menjalani peralihan dari negara otoriter-militeristik ke negara yang menganut sistem demokrasi. Hanya itukah perubahan yang berarti yang disumbangkan pemuda kita. Adakah setelah keberhasilan itu terdengar gaung perubahan pemuda lagi. Tidak ada lagi. Demo di berbagai tempat, tapi tak ada satu pun perubahan yang terjadi dengan adanya demo tersebut. Apa pemerintah sudah tutup telinga dengan demo tersebut yang nota bene suara rakyat. Atau kesalahan terletak pada pemuda yang berdemo hanya sekadar berdemo tanpa isi. Pemerintah sudah memberikan kursi bagi para pemuda untuk duduk di pemerintahan. Itu adalah kontribusi yang cukup bagi pemuda untuk kembali mengadakan perubahan-perubahan pada pemerintahan. Tapi sampai saaat ini tidak ada perubahan juga yang terjadi. Mungkinkah pemuda yang kita percayai untuk mewakili suara kita ikut menjadi tua pikirannya karena tergoda dengan harta. Tapi itulah kenyataan, menjadi orang kaya di masa muda. Semua orang pasti menginginkannnya. Menumpuk harta selagi sempat. Mereka pun melupakan visi dan misi utama untuk melakukan perubahan. Tapi, pasti dari sekian politisi yang notabene pemuda masih mampu menyuarakan suara rakyat demi perubahan. Kita harus percaya itu. Di dalam pikiran tua itu masih terbesit jiwa pemuda yang entah kapan pasti akan terbangun dari tidurnya.

Agen perubahan, Agen Kontrol Sosial, dan Agen perkembangan

Peran yang disandang pemuda Indonesia adalah agen perubahan (Agent of Change) ,agen kontrol social (Agent of Social Control) , dan agen perkembangan (Agent of Development). Agen perubahan, sejak sebelum terproklamirnya kemerdekaan Indonesia, pemuda melakukan perubahan di mana-mana. Paradigma untuk berjuang merebut kemerdekaan dimulai dari organisasi kepemudaan Budi Oetomo 1908. Berlanjut dengan adanya Jong-jong pemuda daerah yang disatukan dalam Sumpah Pemuda  28 oktober 1928. Perjuangan belum terhenti. Proses proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dilakukan oleh Soekarno, juga merupakan usaha dari pemuda yang mendesak Soekarno untuk segera memproklamirkan keerdekaan. Mei 1998, lengsernya pemerintahan orde baru yang dipimpin Soeharto juga merupakan perubahan yang sangat besar yang dilakukan pemuda. Bayangkan apa bila kita sekarang masih berada pada orde itu. Akan dibawa  kemana Indonesia kita. Benedict Anderson, seorang Indonesianist mengungkapkan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya. Pernyataan Ben Anderson ini tak salah memang apabila dikaitkan dengan sejarah panjang bangsa Indonesia, di mana pemuda menjadi aktor dari setiap langkah perjalanan bangsa Indonesia.Pemikiran-pemikiran baru yang didasari jiwa nasionalis tercetus dari para pemuda. Agen kontrol sosial. Sebagai sebuah negara dengan wilayah yang besar dan pendidikan politik masyarakatnya yang relatif rendah, setiap pemerintahan yang berkuasa di Indonesia akan cenderung melakukan penyimpangan dalam setiap kebijakannya. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat sebagai warga Republik Indonesia secara politis belum cukup aktif dalam mengupayakan pengkontrolan terhadap kebijakan dan perilaku politik penguasanya, sehingga peran pemuda dalam hal ini menjadi sangat penting dalam menstimulus partisipasi politik rakyat dalam upaya mengontrol setiap kebijakan yang dibuat penguasa. sangat rawan dengan konflik. Konflik antara masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lain. Agen perkembangan, mengisi kemerdekaan adalah tugas semua warga Indonesia, terutama para pemuda. Sumbangan tenaga, waktu, dan pikiran sangat dibutuhkan. Pembangunan-pembangunan dilakukan untuk memajukan Negara Republik Indonesia. Kesadaran untuk memajukan bangsa harus timbul dari benak masing-masing. Perjuangan para pahlawan untuk mendaptkan kemerdekaan tidak lah mudah beitu pula untuk memperthankannya. Sekarang bukanlah masa unuk mempertahankan kemeredekaan dengan berperang tapi dengan mengunakan akal pikiran. Memasuki era globalisasi adalah tantangan tersendiri bagi kita untuk meneruskan perjuangan beliau-beliau yang telah sudah susah payah mendapatkannya. Kita adalah pemuda harapan bangsa. Mahasiswa Indonesia.

Soe Hok Gie, seorang tokoh pemuda Indonesia tahun 1960-an yang banyak terlibat aktif dalam aksi-aksi mahasiswa menjatuhkan Presiden Soekarno,
“….mahasiswa Indonesia berperan ibaratnya seorang resi (guru agama yang ahli bela diri—pen) atau seorang sheriff yang turun ke kota menyelamatkan rakyatnya ketika bandit-bandit datang dan mengancam keselamatan kota. Setelah bandit-bandit tersebut tewas atau melarikan diri, maka resi atau sheriff pergi meninggalkan kota tersebut dan kembali ke tempat tinggalnya.” (Soe Hok Gie: Catatan Harian Seorang Demonstran. 1967:…..)

daftar bacaan:

Sunarno.2008.Esai.http://sunarno.wordpress.com

Kepemimpinan Pemuda Menjadi Titik Tolak Kebangkitan Indonesia di Masa Depan.2008.http:// PPSDMS.net.htm

Anies Baswedan.2008. Kepemimpinan pemuda abad 21 memerlukan kompetensi tinggi. http:// PPSDMS.net.htm

Muradi Clark.2007. Memperkuat Profesionalisme Kepemimpinan Pemuda. http://muradiClark-dailyblog.com

Eep Saefulloh Fatah.2007. Sastra pembebasan Menua Secara Politik. http://progind.com

PASTI INI YANG DITUNGGU-TUNGGU ^^,

Setelah melewati seleksi yang ketat,,

berikut kami umumkan para juara dari UNS HEALTHY ESSAY COMPETITION

Kategori SMA

juara 1   : Salsabila Fauziah Al-Khusna dari MA Al-Mukmin Ngruki

      “ BERSIHKAN LINGKUNGAN, SEHATKAN BADAN “  Skor : 1545

Juara 2 : Annisa Nurul Ulfa dari MA Al- Mukmin Ngruki

        “ MENUJU INDONESIA SEHAT DENGAN MENJAGA LINGKUNGAN SEKITAR ” skor : 1145

Juara 3 : M. Imam Ainul Hidayat dari MA Al-Mukin

       ”REMAJA YANG TAK TERKENDALI” skor : 1135

 

kategori Mahasiswa

juara 1 : Ayunina Rizky Ferdina dari Farmasi ITB

       “Sungai Bersih untuk Indonesia yang Sehat” skor :2100

Juara 2 : Ika Krastanaya dari  Fakultas Kedokteran Universitas Tanjung Pura Pontianak

         “ GERAKAN MASYARAKAT PERANG DBD MENUJU KOTA PONTIANAK SEHAT DAN BERSINAR ” skor :   1895

Juara 3 : Kirana Mustikasari dari Fakultas Kedokteran UNS

      “ PROGRAM  3 M, MENUJU KOTAKU BEBAS DBD ” skor : 1885

 

Selamat bagi para juara dan tetap bersemangat untuk berkresi bagi rekan-rekan semua .

bagi para juara harap menunggu konfirmasi lebih lanjut dari pihak panitia.

terima kasih.

sehat kotaku sehat indonesiaku.

                  

PENGUMUMAN PENTING ,,KARENA ADA NYA PERMASALAHAN DARI DEWAN JURI MAKA PENGUMUMAN DILAKSANAKAN PADA HARI SENIN, 22 MARET,, TERIMA KASIH

SELAYANG PANDANG DESA SIAGA -dewi- Fenomena kesehatan masyarakat di tanah air kian buruk, terutama yang melanda kalangan anak-anak. Pasalnya, telah terjadi kenaikan secara signifikan dari penderita gizi kurang dan gizi buruk dari tahun 2000 ke tahun 2005 lalu. Penderita gizi buruk untuk balita meningkat dari 9.8 persen menjadi 10,9 persen untuk usia 12-23 bulan. Sementara untuk balita 24- 59 bulan pada tahun 2000 berkisar 8 persen kini meningkat menjadi 19,7 persen tahun 2005 lalu. Selain itu banyak ditemukan kasus-kasus baru seperti flu burung dan flu babi yang sampai saat ini belum tertangani secara maksimal. Demam berdarah dan malaria yang juga menjadi penyakit musiman di Indonesia menelan banyak jiwa. Kondisi ini sangat memprihatinkan sehingga Departemen Kesehatan mencetuskan perlunya menghidupkan kembali Posyandu dan Desa Siaga di seluruh tanah air. Departemen Kesehatan (Depkes) menyiapkan 12 ribu desa siaga di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan, pada tahun 2009 ditargetkan dapat dibentuk 70 ribu desa siaga. Pembentukan Desa Siaga dimaksudkan untuk memberikan penerangan kepada warga setempat agar dapat mencegah dan mengatasi masalah kesehatan (bencana dan kegawat daruratan) secara mandiri. Selain itu, Desa Siaga juga diharapkan nanpu meningkatkan akses kesehatan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Selain meningkatkan sistem surveillance, monitoring dan informasi kesehatan serta meningkatkan biaya kesehatan. Guna menjalankan strategi tersebut maka dianggap penting untuk menjadikan seluruh desa sebagai desa siaga sehingga seluruh masyarakat sadar kesehatan. Seluruh masyarakat harus berperilaku hidup bersih dan menjaga lingkungannya agar tetap asri dan yang lebih penting seluruh masyarakat harus sadar gizi. Departemen Kesehatan sedang menyiapkan 12 ribu poliklinik kesehatan desa tahun ini. Jumlah tersebut adalah sebagian dari total 69 ribu poliklinik kesehatan desa yang dibutuhkan. Poliklinik kesehatan desa diharapkan menjadi pusat dan sistem informasi kesehatan masyarakat di pedesaan. Dalam pelaksaanaan desa siaga ada beberapa indicator yang dijadikan pegangan untuk menentukan keberhasilan suatu desa menjadi desa siaga. Empat indicator yang dijadikan pegangan dilhat dari segi input, proses, output dan outcome. Dari segi input ada beberapa hal yang diperhatikan, antara lain ada tidaknya forum desa, poskesdes, tenaga kesehatan (minimal bidan) dan UKBM. Forum masyarakat desa digalakkan sebagai wujud partisipasi masyarakat desa dalam usaha menyelesaikan masalah kesehatannya secara bersama-sama. Adanya Poskesdes diharapkan menjadi perpanjangan fungsi dari puskesmas yang berada di desa. Di poskesdes dapat dijadika pusat sarana kesehatan bagi warga desa. Selain itu dibutuhkan pula tenaga kesehatan yang dapat dijadikan contoh dan tempat untuk membantu menjalankan fungsi kesehatan di desa. Untuk saat ini, pemerintah menentukan minimal adanya satu bidan di masing-masing desa. Indikator yang kedua adalah mencakup proses dari berfungsi atau tidaknya poskesdes, ukbm, system kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana, system surveilans. Selain itu, ada atau tidaknya kunjungan rumah oleh nakes dan kader untuk kadarzi dan PHBS sebagai wujud perhatian terhadap kesehatan mansyarakat. Dari input dan proses tersebut, dapat ditentukan indicator untuk keluarannya atau output. Diantaranya adalah cakupan Yankes Poskesdes, pelayanan UKBM yang ada, rumah tangga yang mendapat kunjungan dari nakes dan kader mengenai kadarzi dan PHBS. Selain itu, dapat dilihat juga dari jumlah kasus kegawat daruratan dan kejadian luar biasa (KLB) yang dilaporkan atau yang dapat diatasi. Tidak hanya itu, dampak yang dirasakan masyarakat juga harus diperhatikan, karena adanya desa siaga ini ditujukan untuk masyarakat. Dari dampak atau outcome dapat dilihat dari jumlah masyarakat yang menderita sakit ( sakit kasar), menderita gangguan jiwa, ibu melahirkan yang meninggal dunia, bayi dan balita yang meniggal dunia, dan bayi dengan gizi buruk. Salah satu desa yang akan dijadikan contoh adalah desa siaga yang terletak di Kab. Lumajang. Lumajang telah berhasil mempelopori berkembangnya Desa Siaga melalui Gerakan Mambangun Masyarakat Desa (Gerbangmas). Ada beberapa hal yang dapat menjadi factor mempengaruhi keberhasilan program desa siaga. Pertama; Pentingnya sebuah paradigma pembangunan kesehatan yang menjadi landasan berpikir dalam bertindak. Sejatinya pemerintah telah mengenalkan paradigma baru dalam pembangunan kesehatan yaitu Paradigma Sehat. Dengan Paradigma Sehat, menunjukan upaya pemerintah melakukan reorientasi pembangunan kesehatan. Penanganan kesehatan penduduk dititikberatkan pada pembinaan kesehatan bangsa (shaping the health nations) dan bukan sekedar penyembuhan penyakit, namun termasuk pencegahan penyakit, perlindungan keselamatan, dan promosi kesehatan. Hal itu menyadarkan kepada kita bahwa membina kesehatan bangsa atau menciptakan bangsa yang sehat, cerdas, trampil, tidak bisa dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan saja. Kedua; Dengan adanya otonomi daerah, dimana daerah (kabupaten/kota) memegang kewenangan penuh terhadap bidang kesehatan, dukungan dan peran pemerintah daerah (eksekutif dan DPRD) sangat dominant terhadap jalannya Desa Siaga. Ketiga; Berjalannya program Desa Siaga, juga ditentukan oleh dukungan dari puskesmas dan posyandu yang lebih dulu ada. Saat ini, pemerintah revitalisasi puskesmas dan posyandu hanya diartikan dengan pemenuhan fasilitas sarana. Padahal bila merujuk dari fungsi dan peran puskesmas sebagai penggerak pembangunan berwawasan kesehatan di kecamatan, menumbuhkan pemberdayaan masyarakat dan keluarga di bidang kesehatan masyarakat. Maka sudah seharusnya revitalisasi diarahkan pada bagaimana agar peran dan fungsi tersebut berjalan optimal. Keempat; Keterlibatan aktif dari para stakeholder dan masyarakat secara luas. Selama ini, keterlibatan masyarakat secara semu yang lebih bersifat kepatuhan daripada partisipasi aktif. Sering kita temui elemen masyarakat yang aktif adalah yang terikat dengan organisasi formal dan semi formal yang bersifat hirarkis. Akibatnya, kader yang aktif di dominasi oleh para kelompok elit yang mempunyai relasi jabatan dalam organisasi di kampung. Seluruh warga perlu diberi akses yang luas dan sama untuk berperan dalam kegiatan posyandu. Selama mereka mempunyai komitmen untuk aktif dalam Desa Siaga, harus diberi kesempatan. Kelima; Peran Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan yang perlu direvitalisasi. Saat ini, keberadaan Depkes dan Dinas Kesehatan masuk dalam koordinasi bidang kesejahteraan rakyat (Kesra). Keberadaan Depkes/Dinkes hanya dibutuhkan pada saat pembicaraan tentang wabah, bencana, dan segala hal yang terkait dengan ‘pengobatan dan pemulihan’. Seharusnya Depkes/Dinkes perlu bicara tentang human capital dan program investasi di bidang kesehatan. Sehingga, bila kesehatan dipandang sebuah investasi, Depkes/Dinkes juga masuk dalam koordinasi bidang perekonomian.Selama ini, distribusi tenaga di Depkes RI dan berbagai institusi kesehatan masih didominasi oleh tenaga yang berlatar belakang ‘kesehatan murni’. Seharusnya, “Sehat Tanggung Jawab Semua”, Depkes haruslah membuka kesempatan yang sama bagi tenaga-tenaga lain, mulai dari ekonom, politician, sosiolog bahkan sampai dengan teknokrat. Oleh karena itu, pendekatan program Desa Siaga tidak hanya bertumpu pada sector kesehatan saja, tetapi dalam aspek yang lebih luas. Termasuk dalam kewaspadaan rawan pangan, kerawanan social. Sehingga juga melibatkan sector dari luar kesehatan. Anonim. 2008. Desa Siaga Dikembangkan ke Seluruh Indonesia www.depkes.go.id Geno, Rachmad. 2006. Faktor Sukses Desa Siaga (maaf lupa alamat web.na),, Gemari Edisi 70/Tahun VII/Nopember 2006. Depkes Siapkan 12 ribu Desa Siaga Harian Pikiran Rakyat-Pakuan (6 November 2008). Desa Siaga Masih Terkendali. Suparmanto, Sri. 2006. Pengembangan Desa Siaga dan Pos Kesehatan Desa. KEPMENKES NO.564/MENKES/SK/VIII/2006

UNS Healthy Essay Competition

PENGUMUMAN PENTING!!

DENGAN  BERBAGAI PERTIMBANGAN, UNTUK FINAL UNS HEALTHY ESSAY TIDAK DAPAT DISELENGGARAKAN.

UNTUK PEMENANG AKAN LANGSUNG DIUMUMKAN DI BLOG INI DAN AKAN LANGSUNG DIHUBUNGI OLEH PANITIA.

PEMENANG AKAN DIUMUMKAN  TANGGAL  21 MARET 2010.

UNS Healthy Essay Competition

Kesehatan masyarakat adalah komponen yang amat penting dalam pembangunan suatu negara. Kondisi masyarakat yang sehat menjadikan masyarakat tersebut produktif sehingga dapat mendukung terwujudnya optimalisasi di berbagai bidang seperti pendidikan, sosial, ekonomi dan pembangunan nasional. Pembangunan nasional yang optimal dapat tercapai apabila pembangunan kesehatan masyarakat dapat terwujud.

Namun, kondisi nyata kesehatan masyarakat Indonesia saat ini belum sesuai dengan harapan. Pada tahun 2008, angka kematian ibu 26,9 persen per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi 248 per 100 ribu kelahiran. Sementara angka harapan hidup berkisar rata-rata 70,6 tahun. Jumlah penderita gizi buruk dalam masa empat tahun terakhir 21,3 persen di tahun 2007 (Departemen kesehatan, 2009).
Pemerintah Indonesia telah mencanangkan visi Indonesia sehat 2010 sejak tahun 1999 melalui prasasti yang ditandatangani oleh Presiden Habibie. Indikator-indikator serta target yang hendak dicapai di tahun 2010 pun telah ditetapkan. Pemerintah sebenarnya telah banyak mencanangkan program-program pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Namun banyak dari program tersebut yang tidak terlaksana. Salah satunya adalah program untuk menyebar 63.000 bidan pegawai tak tetap ke pelosok desa seluruh Indonesia yang akhirnya terhenti. Selain itu, banyak pula posyandu-posyandu yang sudah tidak aktif lagi. Program warung obat desa pun tak terlaksana. Banyak hal yang tampaknya masih jauh dari target yang hendak dicapai di tahun 2010.

Pada tahun 2006, pemerintah meluncurkan program kesehatan yang berbasis masyarakat, yaitu Desa Siaga. Program ini bertujuan untuk membentuk masyarakat yang memiliki kemandirian di bidang kesehatan melalui peningkatan pengetahuan, kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat di bidang kesehatan. Dengan demikian, diharapkan kesehatan di lingkungan desa akan meningkat. Suatu kesatuan yang besar dibangun dari komponen-komponen kecil yang menyangganya. Konsep demikianlah yang dijadikan dasar untuk mencapai visi pembangunan kesehatan kita yaitu Indonesia Sehat. Namun, program ini pun bukan tanpa hambatan dalam pelaksanaanya.

Akankah Indonesia benar-benar bisa menjadi sehat? Program demi program yang digulirkan pemerintah tidak kesemuanya berjalan lancar. “Sehat Kotaku, Sehat Indonesiaku” menjadi tema UNS Healthy Essay Competition 2010 karena masalah ini merupakan bagi semua masyarakat Indonesia demi terwujudnya Indonesia yang sehat, produktif dan maju.

Lomba ini dibagi menjadi 2 kategori :
1.Mahasiswa
2.Pelajar SMA
Pendaftaran dan pengumpulan karya paling lambat tanggal 2 maret 2010
Penghargaan :
-Mahasiswa :
Juara 1 = Rp 750.000,- + sertifikat + trophi
Juara 2 = Rp 500.000,- + sertifikat + trophi
Juara 2 = Rp 250.000,- + sertifikat + trophi
-Pelajar SMA :
Juara 1 = Rp 600.000,- + sertifikat + trophi
Juara 2 = Rp 400.000,- + sertifikat + trophi
Juara 2 = Rp 200.000,- + sertifikat + trophi

selengkapnya lihat di UNS Healthy Essay Competition

Siasat Menghadapi Asean Free Trade Area (AFTA) 2010

AFTA 2010..

-indi-

Sebuah tantangan besar bagi negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi tahun 2010 telah menanti. Dalam hitungan bulan, ASEAN Free Trade Area (AFTA) tengah dipersiapkan konsepnya dengan matang, setelah menjadi hasil kesepakatan dari negara-negara yang tergabung dalam ASEAN unutk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dan menjadikan ASEAN sebagai salah satu pihak yang berpengaruh pada perdagangan dunia. Tidak hanya mengedepankan satu aspek saja, setidaknya ada lebih dari 12 aspek atau sector yang akan disentuh oleh AFTA  antara lain produk berbasis argo, perjalanan udara, E-ASEAN, elektronik, perikanan, produk berbasis kayu, dan yang tidak kalah penting adalah sector kesehatan karena sector inilah yang tidak akan lepas dari dunia social kemasyarakatan, sehingga akan timbul pertanyaan apakah pelayanan kesehatan Indonesia sudah siap secara pelayanan dan infrastruktur dalam menghadapi AFTA 2010? Sudahkah kita menemukan solusi dari permasalahan yang ada? Sudahkah kita menemukan siasat yang baik dalam menghadapi AFTA 2010?  Pertanyaan tersebutlah yang harus kaji bersama.

Masalah kesehatan di Indonesia begitu kompleksnya, ibarat kita menemukan jalan yang penuh cabang dan hanya sedikit yang berujung. Dari segi pelayanan dan infrastruktur perumah sakitan, akan kita lihat begitu minimnnya rumah sakit di Indonesia yang mampu member layanan berkualitas dan efisien. Padahal, pemerintah negara-negara ASEAN membuat kebijakan yang mendorong rumah sakit meraih konsumen dari negara lain. Hal ini yang akan menjadi salah satu tantangan ke depan bagi bangsaini, padahal kita tahu bahwa Malaysia dan Singapore selalu menjadi rujukan pengobatan pasien-pasien dari Indonesia karena pelayanan yang bagus, adanya kepastian harga, dan efisien dalam pengeluaran biaya. Masyarakat mencari layanan kesehatan berkualitas dan efisien bukan layanan yang mahal dan hasil yang tidak memuaskan. Hal inilah yang perlu direnungkan karena hakikat sebuah pelayanan adalah kita mampu memberikan apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Butuh koreksi, restrukturisasi manajemen dan layanan kesehatan serta pengawasan yang kuat untuk upaya peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat. Bila hal ini dilakukan secara menyeluruh, alhasil tidak hanya terjadi perbaikan mutu pelayanan dan infrastruktur di rumah sakit rujukan nasional serta daerah tetapi juga sampai ke pelosok tanah air. Hal ini bukan hanya mimpi belaka, tapi sebuah tekad untuk usaha mewujudkannya.

Permasalahan sumber daya tenaga kesehatan juga tidak akan lepas dari focus dunia kedokteran Indonesia saat ini. Proses aplikatif dari kompetensi minimum yang telah ditetapkan tingkat internasional sampai saat ini belum terlihat. Padahal, konsep yang dikenal dengan tujuh kompetensi minimum yang harus dicapai oleh semua lulusan dokter telah dicanangkan dengan matang oleh The Institute for International Medical Education (IIME). Tujuh butir standar kompetensi minimum tersebut adalah (1) professional values, attitudes, behavior and ethics, (2) scientific foundation of medicine, (3) clinical skills, (4) communication skills, (5) population health and health systems, (6) management of information, (7) critical thinking and research. Ketujuh aspek ini disebut dengan Global Minimum Essential Requirements (GMER). Analisis dalam menghadapi AFTA 2010 adalah bagaimana menyiapkan dokter-dokter Indonesia yang bisa bersaing di level internasional, dan itu semua akan terjawab jika kita mulai mencari akar permasalahan yang bisa kita cari solusinya. Jika kita lihat, permasalahan ini berakar dari system pendidikan kedokteran yang harus dievaluasi dan disesuaikan kompetensinya sehingga bisa berkiblat pada tujuh kompetensi minimum dokter tersebut. Jika dilihat dari poin per poin dari tujuh kompetensi minimum dokter tersebut, tidak hanya mengedepankan kemampuan atau ability dalam hard skill dan teori, tetapi bagaimana seorang dokter bisa menguasai soft skill dasar yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, mulai dari komunikasi dasar dan etika profesi.

Ada tiga aspek yang kita pandang berkaitan dengan usaha peningkatan mutu sumber daya dan profesionalitas tenaga kesehatan di era global. Pertama, aspek analisis tantangan tenaga kesehatan di era global. Salah satu imbas adanya AFTA 2010 (Asean Free Trade Area) adalah semakin luasnya aspek perdagangan dunia. Aliran perdagangan yang terjadi tidak hanya aliran barang publik, tetapi juga perdagangan jasa termasuk jasa tenaga kesehatan yang dapat mengakses dengan bebas ke berbagai Negara. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah perlu mengembangkan standar kompetensi untuk penyiapan skills dan endurance tenaga kesehatan lebih baik lagi.

Kedua, aspek proses pengembangan SDM kesehatan. Satu hal yang perlu diperhatikan untuk menyesuaiakan perkembangan dunia adalah dengan meningkatkan akses informasi dunia luar sehingga akan menghasilkan lulusan-lulusan yang mempunyai cakrawala berpikir yang luas dan terbuka dengan perkembangan dunia luar. Perlu juga menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan di luar negeri untuk memaksimalkan usaha tersebut. Ketiga, melakukan berbagai inovasi sistem pembelajaran yang memudahkan mahasiswa memahami ilmu kedokteran dengan lebih tersistematis dan komprehensif. Selain itu, kontrol kualitas perlu dilakukan dengan proses assesment yang bagus dan objektif.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa syarat mutlak modal para tenaga kesehatan khususnya dokter untuk mampu bersaing di era global penguasaan skills yang spesifik dan memenuhi standar kompetensi pelayanan yang mengacu pada standar pelayanan yang digunakan oleh semua negara. Tanpa penyesuaian diri dan kerja keras, mungkin kita akan terdepak oleh tenaga-tenaga kesehatan ’produk asing’ yang lebih terampil dan mempunyai kompetensi khusus di bidangnya. Tentunya ini adalah tantangan besar bagi kita apakah kita mampu menghadapi terjangan arus globalisasi di bidang kedokteran dan sudah seberapa jauh persiapan kita menghadapi tantangan itu?! Viva kedokteran indonesia!!!

SEKARANG SAATNYA BERSATU UNTUK MENJAGA BUMI

Oleh Dewi Okta Anggraini*

*Pendidikan Dokter 2009, Staf Departemen Luar Negeri BEM FK UNS

Climate Change will no longer be a primarily environmental concern. It has become a matter of strategic consequence, a core political issue for every government on Earth

Ban Ki-Moon

Iklim di dunia selalu berubah, baik menurut ruang maupun waktu. Perubahan iklim ini dapat dibedakan berdasarkan wilayahnya (ruang), yaitu perubahan iklim secara lokal dan global. Berdasarkan waktu, iklim dapat berubah dalam bentuk siklus, baik harian, musiman, tahunan, maupun puluhan tahun. Perubahan iklim global disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas atau emisi di atmosfer.

Berbagai cara ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan tentang perubahan iklim. Salah satunya adalah pertemuan multilateral negara-negara di seluruh belahan dunia yang dikenal dengan Konferensi Perubahan Iklim (COP-15) di Kopenhagen, Denmark. Ini bukan kali pertamanya diadakan pertemuan serupa, sebelumnya sudah diselenggarkan di Polandia dan di Bali. COP-15 ini merupakan langkah lanjutan untuk memperbaharui Protocol Kyoto yang dibuat tahun 1997 dan akan berakhir 2012.

Akan tetapi, sampai saat ini pertemuan ini belum menemukan titik terang untuk menyelesaikan masalah perubahan iklim yang semakin parah. Belum adanya kerjasama dan rasa saling menghargai memperkeruh konferensi yang notabene sebagai penyelesaian permasalahan perubahan iklim. Pertentangan antara negara maju dan negara berkembang tidak menemukan kesepakatan yang membuat kedua blok ini bekerjasama.

Amerika Serikat (AS) dan China saling menuding siapa yang paling tidak memenuhi komitmennya untuk mengurangi emisi gas di Konferensi Perubahan Iklim yang berlangsung selama 12 hari di Kopenhagen.
China didesak untuk memenuhi janjinya mengurangi pengeluaran karbon dan membuat deklarasi sebagai bagian dari kesepakatan internasional perubahan iklim. China menuding AS yang gagal memenuhi komitmennya menyediakan bantuan finansial bagi negara-negara berkembang. AS juga dianggap lalai memenuhi janji mengurangi emisi karbon dioksida dan gas-gas lain yang memanaskan Bumi.

Sikap saling curiga timbul di antara dua negara penghasil polusi terbesar tentang kesungguhan untuk mengurangi emisi gas.
Diperkeruh lagi suasana dalam konferensi tersebut saat negara-negara berkembang geram setelah mengetahui bocoran draf kesepakatan yang lebih menguntungkan negara-negara maju.

Hambatan terbesar adalah tidak adanya titik temu antara negara maju dan berkembang dalam hal upaya mitigasi dan adaptasi, terutama pendanaan. Jika semua berlangsung lancar, 194 negara yang dipayungi Kerangka Konvensi mengenai Perubahan Iklim PBB (UN-FCCC) akan menghasilkan kesepakatan politis memangkas emisi gas karbon penyebab efek rumah kaca, kondisi terperangkapnya panas di atmosfer Bumi.

Seharusnya setiap negara mengintrospeksi diri masing-masing. Tidak pernah tercapai tujuan untuk menjaga bumi dengan mengurangi emisi yang dihasilkan apabila dari masing-masing negara masih bersifat egois dan saling menyalahkan. Semua negara pasti pernah menyumbangkan emisinya. Berapa pun banyaknya emisi yang dihasilkan, tetap menyumbang perubahan iklim yang sekarang menjadi masalah bersama. Sekarang bukan masalah kuantitas dari emisi yang diperdebatkan dan dijadikan ajang untuk saling menyalahkan siapa yang seharusnya bertanggungjawab, akan tetapi bagaimana menyelesaikan permasalahan ini. Konferensi ini pun tidak akan berhasil dan menemukan kesepakatan apabila tidak ada kesadaran dari setiap negara akan tugas mereka. Semua negara harus saling bekerja sama sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing dalam menghadapi permasalahan ini. Semakin lama berlarut-larut dalam keegoisan masing-masing, tidak akan ada tindakan nyata untuk mengurangi emisi yang ada. Kondisi bumi akan semakin memburuk diantara pertikaian antar negara.

Oleh karena itu dibutuhkan kerja sama di dalam berbagai sisi, diantaranya:

Pertama, meningkatkan kerja sama antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang. Negara-negara maju harus mengambil aksi pragmatis, menunaikan komitmennya tentang target pengurangan emisi dan persediaan dana; sementara itu, negara-negara berkembang bertugas mengembangkan ekonomi, dan mengambil tindakan pengurangan emisi yang layak dalam proses perkembangan berkelanjutan. Baik negara-negara maju maupun negara-negara berkembang hendaknya tidak lagi saling mencela dan berlawanan dalam masalah perubahan iklim, melainkan meningkatkan kerja sama agar pemanasan global dapat dibendung, dan masalah perubahan iklim dapat diselesaikan secara tuntas.

Kedua, meningkatkan kerja sama dalam kerangka PBB. Konvensi Kerangka Perubahan Iklim PBB dan Protokol Kyoto merupakan perjanjian internasional yang bersifat mengikat secara hukum dan yang diakui umum oleh masyarakat internasional dalam menanggapi perubahan iklim. Oleh karena itu, berbagai negara hendaknya meningkatkan kerja sama multilateral dan menunaikan kewajibannya masing-masing dalam kerangka PBB.

Ketiga, meningkatkan kerja sama negara-negara berkembang. Banyaknya jumlah penduduk, maka negara-negara berkembang termasuk kelompok yang rawan dalam masalah perubahan iklim. Negara-negara kepulauan lebih-lebih menghadapi ancaman “musnah”. Oleh karena itu, negara-negara berkembang yang berada pada tahap perkembangan yang berbeda, hendaknya meningkatkan koordinasi antara satu sama lain, dan bergandengan tangan dalam menanggapi perubahan iklim.

Bumi saat ini masih membutuhkan pertolongan kita untuk dapat bertahan hidup. Tinggalkan lah keegoisan kita, bumi sudah banyak memberikan pengabdiannya kepada kita, sekarang tugas kita untuk menunjukan pengabdiaanya kepada bumi. Save The Earth for the Future.

Global Warming sebagai Kegelisahan Global

Oleh : Sofina Kusnadi*

* Pendidikan Dokter 2008, Departemen Luar Negeri BEM FK UNS

Selama dua belas hari, delegasi-delegasi dari 192 negara berkumpul di ibukota Denmark, Kopenhagen dalam suatu konferensi besar. Mereka membahas masalah yang makin hari makin menggelisahkan masyarakat seluruh dunia yaitu perubahan iklim dunia. Hal ini disebabkan oleh kondisi yang kita kenal sebagai global warming. Forum ini menghasilkan suatu kesepakantan berupa Copenhagen Accord. Salah satu poin di dalamnya adalah mempertahankan pemanasan global tidak melebihi 2o celcius. Selain itu pada 1 Februari 2010 seluruh negara diminta mengemukakan janjinya untuk mengurangi emisi karbon sampai tahun 2020. Satu lagi poin penting dalam kesepakatan ini adalah bahwa negara-negara maju sepakat untuk memberikan bantuan dana bagi negara-negara berkembang terutama dalam perlindungan hutan.

Sejak PBB membentuk Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) yang merupakan himpunan sekitar 2500 ilmuwan dari lebih 100 negara pada tahun 1988, isu pemanasan global mulai ramai dibicarakan banyak orang. Isu ini terus mengisi berbagai media massa, bahkan tidak sedikit film-film yang mewacanakan isu pemanasan global yang menjadi pemicu kehancuran dunia semisal Deep Impact, The Day After Tomorrow, hingga yang terbaru 2012. Berbagai artikel seputar pemanasan global dari berbagai tinjauan dan analisa pun jumlahnya mencapai ribuan. Tidak berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa pemanasan global merupakan isu paling panas yang terus diperbincangkan selama abad 21 dan melibatkan seluruh pihak.

Para ilmuwan telah meghitung bahwa temperatur rata-rata global permukaan bumi telah meningkat 0,74±0,18 2o celcius selama seratus tahun terakhir. IPCC menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca. Para ilmuwan memprediksi bahwa akibat pemanasan global akan lebih banyak orang terkena atau meninggal karena stres panas. Diprediksikan juga akan terjadi peningkatan insidensi alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold, dan serbuk sari. Selain itu, peningkatan suhu global ini juga menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik lama dan baru yang merata dan terus bermunculan seperti leptospirosis, demam berdarah, diare dan malaria. Tidak hanya berdampak di bidang kesehatan, global effect dari perubahan iklim akibat global warming pun amat besar dan mungkin sudah cukup terpresentasikan dalam berbagai film yang menggambarkan kehancuran bumi.

Meskipun konferensi 12 hari yang menghabiskan dana besar ini telah memberikan hasil berupa Copenhagen Accord, tapi hasil ini belum bisa dikatakan memuaskan. Copenhagen Accord ternyata bukanlah suatu kesepakatan yang mengikat secara hukum. Buktinya, dalam  Copenhagen Accord tidak termuat komitmen negara-negara industri untuk mengurangi emisi gas karbon secara jelas dalam jumlah besar. Yang ada hanyalah kesepakatan untuk menjaga agar kenaikan rata-rata suhu bumi tidak lebih dari 2o celcius dibanding era revolusi industri. Dalam kesepakatan ini juga disebutkan bahwa baru pada tahun 2050 negara maju akan memangkas emisi 80% di bawah nilai emisi yang terjadi di tahun 1990. Padahal para ilmuwan merekomendasikan agar negara-negaraindustri setidaknya harus mengurangi emisinya sebanyak 40% pada tahun 2020. Para ilmuwan pun menyatakan bahwa bumi tidak akan terselamatkan dari bahaya perubahan iklim jika suhunya naik  hingga 2o celcius dari suhu sebelum revolusi industri. Tampaknya Copenhagen Accord tidak memperhatikan hal tersebut dalam penyusunannya.

Apabila dipertimbangkan secara mendalam, sangat disayangkan bahwa konferensi besar yang melibatkan perwakilan dari seluruh negara ini tidak dapat menghasilkan suatu kesepakatan yang mengikat secara hukum sehingga mencegah terjadinya pelanggaran. Toh, yang merasakan efek dari perubahan iklim akibat pemanasan global ini adalah negara-negara di seluruh dunia. Dalam kondisi ini, segala perselisihan harus dikesampingkan. Politik seharusnya dijadikan suatu aksi bersama yang kuat dan saling menguatkan. Meskipun demikian, kondisi ini masih lebih baik daripada tidak ada kesepakatan sama sekali yang dihasilkan dari konferensi yang pastinya menghabiskan dana besar ini. Paling tidak, poin-poin kesepakatan yang ada di dalam Copenhagen Accord ini dapat dijadikan patokan tindakan bagi pemerintah Indonesia.

Pada akhirnya, masing-masing negara di dunia ini harus secara mandiri melakukan tindakan nyata dalam menghadapi masalah pemanasan global ini. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melakukan desakan dari bawah. Maksudnya adalah mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat bersama dalam aksi global untuk perubahan iklim ini.  Untuk mencapainya, diperlukan edukasi dan informasi untuk masyarakat mengenai kondisi bumi terkait global warming saat ini, bagaimana dampaknya serta apa saja langkah yang bisa dilakukan.

Bagi kita, mahasiswa yang seharusnya memiliki pola pemikiran yang peka, kritis dan solutif, sudah seharusnya menjadikan masalah global ini sebagai perenungan penting bagi masing-masing pribadi. Banyak dari kita yang tidak tahu atau sudah tahu mengenai arti penting masalah ini tetapi kurang peka dan bijak dalam menanggapinya. Tujuan dari tulisan yang teman-teman baca ini adalah untuk ikut menyebarkan dan menghantarkan pengetahuan mengenai kondisi bumi kita dan kondisi pemikiran pemimpin kita serta masyarakat dunia. Harapannya, kita semua dapat menyadari bahwa masalah perubahan iklim akibat pemanasan global benar-benar akan kita hadapi. Kita pun berkewajiban untuk melakukan sesuatu dalam menghadapinya. Mulailah melakukan hal-hal kecil yang dapat menyelamatkan bumi. Telah banyak tulisan dan saran-saran yang bisa kita cari dan pelajari sebagai upaya kita untuk bersama-sama melindungi bumi. Yang menjadi kunci adalah, kita harus menumbuhkan kesadaran bahwa tidak ada bumi lain yang dapat kita tinggali. Dan yang dapat kita lakukan adalah bersama-sama menjaganya. Bersama. Jangan biarkan bumi kita meleleh sementara menunggu para pemimpin dunia mencapai kesepakatan bersama yang sebenarnya, mungkin, belum mereka resapi bersama.

Global Warming vs Konferensi Perubahan Iklim

Oleh : Noviani Kabut Sunardi* (DIV Kesehatan Kerja 2009)

* Staf Departemen Luar Negeri BEM FK UNS


Telah kita ketahui saat ini Dunia sedang gencar-gencarnya pemberitaan tentang konferensi perubahan iklim dunia di Konpenhagen, Denmark. Sebuah konferensi yang banyak menimbulkan pro dan kontra . Sebenarnya apa yang terjadi di Dunia ini? Mengapa konferensi itu dapat menimbulkan pro dan kontra?

Pemanasan global adalah penyebab utama terjadinya berbagai permasalahan di Dunia. Pemanasan global terjadi karena ulah manusia sendiri sehingga mengakibatkan dampak yang buruk bagi Dunia. Salah satunya yaitu tingginya tingkat emisi karbon dioksida. Tidak perlu kita mengamati dampak buruk itu di semua Negara, cobalah lihat Negara kita sendiri, Indonesia. Apa yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini? Dampaknya bisa kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Kerusakan lingkungan telah terjadi dimana-mana, perubahan iklim yang tidak teratur, cuaca menjadi sulit diramalkan, banjir dan longsor semakin sering terjadi, tak kalah hutan-hutan terbakar karena suhu yang terlalu panas, serta banyak penduduk yang kelaparan akibat gagal panen. Bisa kita bayangkan, apa yang akan terjadi pada Negara tempat dimana kita berpijak ini jikalau hal itu terus menerus berkelanjutan?

Dunia berinisiatif untuk melindungi Bumi. Hal yang pertama dilakukan adalah mengadakan konferensi yang menghadirkan ribuan delegasi dan sekitar 190 negara untuk berkumpul dan membahas upaya bersama dalam mengatasi kerusakan lingkungan yang berdampak pada perubahan iklim. Namun pada kenyataannya, hal baik itu malah menjadi hal yang merumitkan. Hasil konferensi tak jua membuahkan hasil yang baik. Dalam konferensi itu salah satu solusi yang diberikan adalah bahwa setiap Negara harus mengurangi jumlah emisi dalam perindustrian mereka. Namun siapa yang mau?  Keegoisan dari setiap pemimpin Negara, khususnya Negara-negara industri maju  yang tidak ingin perekonomiannya turun akibat solusi tersebut. Mereka hanya mau menjaga agar kenaikan rata-rata suhu tidak lebih dari 2°C. Tak ada satu pun Negara yang mau jadi pahlawan dalam hal ini.

Sebagia contoh, Amerika serikat tak bersedia mengurangi jumlah pemakaian emisi dalam kegiatan industrinya. As mengarahkan hal tersebut harus dilakukan oleh China, India, Afrika Selatan, dan Brazil dengan alasan kegiatan industri mereka sangat pesat, sejalan denngan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sungguh sangat menyedihkan.

Ada juga Negara sukarelawan,  di Brazil misalnya, banyak hutan yang sednag diselamatkan keberadaannya. Di Chicago berlangsung sistem perdagangan polusi karbon secara sukarela. Warga mendaur ulang, membeli mobil lebih kecil dan lebih baru, dan mengganti bola lampu mereka. Namun dampak dari hal tersebut dinilai para ahli masih terlalu sedikit. Upaya sukarela yang mereka lakukan tidak sebanding dengan pemanasan global yang terjadi saat ini.

Menurut pendapat saya tindakan yang mereka lakukan patut diacungkan jempol, meskipun tak sebanding dengan pemanasan global yang terjadi saat ini. Melakukan hal lebih baik dimulai dari hal yang terkecil terlebih dahulu. Bukankah kita mempunyai peribahasa “Sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit?”. Tindakan yang mereka lakukan pun akan berdampak besar nantinya. Lebih baik melakukan sedikit, daripada tidak melakukan sama sekali. Negara-negara lain patut mencontoh tindakan yang dilakukan Brazil dan Chicago, bukan malah bergelut dengan keegoisannya sendiri.

Untuk Indonesia sendiri, kita sebagai mahasiswa bisa ikut berperan dalam mengatasi permasalahan pemanasan global. Kita mulai dari diri kita sendiri dengan menumbuhkan rasa cinta kita terhadap Bumi ini, untuk kemudian diaplikasikan kedalam gaya hidup sehari-hari. Dari hal yang terkecil misalnya, hemat air dan hemat listrik, membuang sampah pada tempatnya, dan tidak lupa untuk mengurangi sampai plastik atau sampah-sampah yang sulit diuraikan, kurangi merokok, menggunakan lemari es tanpa bahan CFC, khusus remaja putri kurangi penggunaan hair spray, memakai bahan bakar yang ramah lingkungan, tidak membakar barang-barang yang mengandung CFC ditempat yang terbuka, dan yang paling penting sukseskan program pemerintah untuk menanam satu pohon setiap harinya.

Seperti yang saya katakan tadi “sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit” sedikit demi sedikit kita memperbaiki Bumi kita, lama-lama permasalahan yang terjadi berangsur-angsur akan mulai membaik. Lebih baik melakukan hal terkecil daripada tidak melakukan sama sekali. Tetap semangat dalam menjaga Bumi tercinta kita ini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.