-dewi-
Orang-orang tua berdasi dan bermobil mewah keluar masuk dari Gedung Pemerintahan yang setauku usianya hampir sama dengan mereka. Akan tetapi, ada perbedaaan diantara keduanya. Gedung itu sudah usang, bau kayu lapuk, kalau kau menengok ke bagian langit-langitnya banyak sekali plafon yang habis dimakan hujan dan bahkan lebih cocok lagi kalau gedung itu disebut gedung hantu. Sementara mereka, wangi parfum mahal tercium dari radius beberapa meter. Sebenarnya aku bingung. Mobil-mobil mereka begitu berkilauan bila ditimpa cahaya matahari tapi kenapa mereka mau rapat di tempat yang sangat tidak sesuai dengan gaya hidup mereka. Kenapa mereka betah duduk seharian di dalam ruangan yang berpendingin alami. Aku teringat dengan berita akan dibangun gedung itu tapi sampai sekarang, tak ada satu butir pasir pembaharuan pun yang menyentuh tempat itu. Miris aku dibuatnya.
Hanya muka-muka itu saja yang selalu terlihat. Hampir bosan aku melihatnya. Aku bertanya dalam jiwa ku sendiri “katanya pemuda adalah calon pemimpin bangsa, kenapa tak ada dari mereka yang muda, kemana pemuda-pemuda itu?” Atau karena harus rapat di tempat kumuh itu pemuda menjadi ciut nyalinya. Seharusnya tempat itu tidaklah kumuh lagi seperti yang kita bayangkan. Semestinya gedung hantu yang notabene adalah gedung suara rakyat sudah dibangun dengan megah dan layak pakai. Tempat yang pantas untuk menaruh suara hati nurani masyarakat yang haus akan perubahan menjadi lebih baik. Kemanakah gedung yang kita rindukan itu? Suara kami tak di dengar, gedung pun ikut jadi korban. Mungkin karena mereka terlalu lama duduk dalam pemerintahan akan mengalami titik jenuh. Yang mana di titik jenuh seseorang dapat melakukan penyimpangan. Belajar dari pengalaman orde baru. Indonesia yang dipimpin oleh presiden soeharto selama 32 tahun. Tentunya ini akan menimbulkan titik jenuh pada pemerintahan soeharto. Seseorang dapat tergiur untuk melakukan penyimpanagn. Lihatlah seberapa parah hutang kita akibat penyimpangan yang dilakukan para pejabat pemerintahan. Masyarakat pun merasa bosan karena tidak ada perubahan menuju penghidupan yang lebih layak yang terjadi. Pemerintah sibuk dengan urusannya sendiri dan masyarakat sibuk mencari apa yang dapat mereka kerjakan. Mencari sesuap nasi ibarat mencari jarum di dalam jerami. Mengkritisi pemerintah sama saja dengan mati. Di titik seperti inilah masyarakat membutuhkan perubahan. Perubahan harus dari golongan baru golongan yang mau mencetuskan pemikiran-pemikiran baru. Pemikiran yang penuh dengan nasionalisme. Pemikiran yang mau membuat negerinya maju, tidak dalam posisi stagnan tanpa perubahan. Pemuda, merekalah jawabannya. Pemuda yang rela berkorban demi bangsa dan Negara. Pemuda yang haus akan perubahan.
Katanya demokrasi sudah melibatkan dari kalangan pemuda. Tetapi, sepertinya layak dipertanyakan ‘”di mana jiwa pemuda yang siap mengadakan perubahan selama ini kita tunggu-tunggu?” . memang sempat pemuda melakukan perubahan yang sangat besar pada pemerintahan. Transisi demokrasi menjadi salah satu perubahan yang penting untuk diingat. Negara menjalani peralihan dari negara otoriter-militeristik ke negara yang menganut sistem demokrasi. Hanya itukah perubahan yang berarti yang disumbangkan pemuda kita. Adakah setelah keberhasilan itu terdengar gaung perubahan pemuda lagi. Tidak ada lagi. Demo di berbagai tempat, tapi tak ada satu pun perubahan yang terjadi dengan adanya demo tersebut. Apa pemerintah sudah tutup telinga dengan demo tersebut yang nota bene suara rakyat. Atau kesalahan terletak pada pemuda yang berdemo hanya sekadar berdemo tanpa isi. Pemerintah sudah memberikan kursi bagi para pemuda untuk duduk di pemerintahan. Itu adalah kontribusi yang cukup bagi pemuda untuk kembali mengadakan perubahan-perubahan pada pemerintahan. Tapi sampai saaat ini tidak ada perubahan juga yang terjadi. Mungkinkah pemuda yang kita percayai untuk mewakili suara kita ikut menjadi tua pikirannya karena tergoda dengan harta. Tapi itulah kenyataan, menjadi orang kaya di masa muda. Semua orang pasti menginginkannnya. Menumpuk harta selagi sempat. Mereka pun melupakan visi dan misi utama untuk melakukan perubahan. Tapi, pasti dari sekian politisi yang notabene pemuda masih mampu menyuarakan suara rakyat demi perubahan. Kita harus percaya itu. Di dalam pikiran tua itu masih terbesit jiwa pemuda yang entah kapan pasti akan terbangun dari tidurnya.
Agen perubahan, Agen Kontrol Sosial, dan Agen perkembangan
Peran yang disandang pemuda Indonesia adalah agen perubahan (Agent of Change) ,agen kontrol social (Agent of Social Control) , dan agen perkembangan (Agent of Development). Agen perubahan, sejak sebelum terproklamirnya kemerdekaan Indonesia, pemuda melakukan perubahan di mana-mana. Paradigma untuk berjuang merebut kemerdekaan dimulai dari organisasi kepemudaan Budi Oetomo 1908. Berlanjut dengan adanya Jong-jong pemuda daerah yang disatukan dalam Sumpah Pemuda 28 oktober 1928. Perjuangan belum terhenti. Proses proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dilakukan oleh Soekarno, juga merupakan usaha dari pemuda yang mendesak Soekarno untuk segera memproklamirkan keerdekaan. Mei 1998, lengsernya pemerintahan orde baru yang dipimpin Soeharto juga merupakan perubahan yang sangat besar yang dilakukan pemuda. Bayangkan apa bila kita sekarang masih berada pada orde itu. Akan dibawa kemana Indonesia kita. Benedict Anderson, seorang Indonesianist mengungkapkan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya. Pernyataan Ben Anderson ini tak salah memang apabila dikaitkan dengan sejarah panjang bangsa Indonesia, di mana pemuda menjadi aktor dari setiap langkah perjalanan bangsa Indonesia.Pemikiran-pemikiran baru yang didasari jiwa nasionalis tercetus dari para pemuda. Agen kontrol sosial. Sebagai sebuah negara dengan wilayah yang besar dan pendidikan politik masyarakatnya yang relatif rendah, setiap pemerintahan yang berkuasa di Indonesia akan cenderung melakukan penyimpangan dalam setiap kebijakannya. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat sebagai warga Republik Indonesia secara politis belum cukup aktif dalam mengupayakan pengkontrolan terhadap kebijakan dan perilaku politik penguasanya, sehingga peran pemuda dalam hal ini menjadi sangat penting dalam menstimulus partisipasi politik rakyat dalam upaya mengontrol setiap kebijakan yang dibuat penguasa. sangat rawan dengan konflik. Konflik antara masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lain. Agen perkembangan, mengisi kemerdekaan adalah tugas semua warga Indonesia, terutama para pemuda. Sumbangan tenaga, waktu, dan pikiran sangat dibutuhkan. Pembangunan-pembangunan dilakukan untuk memajukan Negara Republik Indonesia. Kesadaran untuk memajukan bangsa harus timbul dari benak masing-masing. Perjuangan para pahlawan untuk mendaptkan kemerdekaan tidak lah mudah beitu pula untuk memperthankannya. Sekarang bukanlah masa unuk mempertahankan kemeredekaan dengan berperang tapi dengan mengunakan akal pikiran. Memasuki era globalisasi adalah tantangan tersendiri bagi kita untuk meneruskan perjuangan beliau-beliau yang telah sudah susah payah mendapatkannya. Kita adalah pemuda harapan bangsa. Mahasiswa Indonesia.
Soe Hok Gie, seorang tokoh pemuda Indonesia tahun 1960-an yang banyak terlibat aktif dalam aksi-aksi mahasiswa menjatuhkan Presiden Soekarno,
“….mahasiswa Indonesia berperan ibaratnya seorang resi (guru agama yang ahli bela diri—pen) atau seorang sheriff yang turun ke kota menyelamatkan rakyatnya ketika bandit-bandit datang dan mengancam keselamatan kota. Setelah bandit-bandit tersebut tewas atau melarikan diri, maka resi atau sheriff pergi meninggalkan kota tersebut dan kembali ke tempat tinggalnya.” (Soe Hok Gie: Catatan Harian Seorang Demonstran. 1967:…..)
daftar bacaan:
Sunarno.2008.Esai.http://sunarno.wordpress.com
Kepemimpinan Pemuda Menjadi Titik Tolak Kebangkitan Indonesia di Masa Depan.2008.http:// PPSDMS.net.htm
Anies Baswedan.2008. Kepemimpinan pemuda abad 21 memerlukan kompetensi tinggi. http:// PPSDMS.net.htm
Muradi Clark.2007. Memperkuat Profesionalisme Kepemimpinan Pemuda. http://muradiClark-dailyblog.com
Eep Saefulloh Fatah.2007. Sastra pembebasan Menua Secara Politik. http://progind.com